Starbux dimana gitU, terSerah si, yang pRaktis buat lu aja. Belanja dimana?Sender:
+336171****
12/01/06
21.03
Aku menatap jauh ke luar bingkai kaca dari sebuah kedai hangat berlantunkan melodi pasifis. Angin dingin menisik kulit mereka disana. Kafe yang dilambangkan dengan seorang "ratu" duyung dalam lingkaran hijau itu telah dipilih, untuk kedua kalinya bagiku, menjadi tempat pertemuan riil antara dua teman maya.
Kini aku tak lagi tahu apabila angin tetap berhembus diluar sana.
Perlahan, tubuhku tak perlu lagi meringkuh melawan dingin, dan aku pun menanggalkan mantel hitamku. Hembusan angin kencang yang searah kini tak lebih dari tontonan belaka dari balik mataku yang jenaka.
Heran, aku yang baru saja merasakannya kini hanya dapat bersimpati hampa pada mereka. Ya, setidaknya aku bersimpati, lebih dari sekedar berempati dan berandai-andai seakan tahu.
Kami tidak sempat berbincang lama. Aku telah lelah mengikuti langkah kakiku sendiri beberapa jam sebelum pertemuan, dan sebagian diriku menyesalinya. Satu hal yang ia tanyakan padaku adalah mengapa aku kini lebih sering menulis dalam bahasa Inggris disini. Aku tersentak menyadari hal yang telah lama aku sadari. Dan itulah alasan mengapa aku menulis dalam Bahasa Indonesia sekarang.
Aku tak tahu apakah ini suatu perubahan permanen atau sekedar menyisipi sebagian dari identitas nasionalku dalam halaman maya yang, mungkin dan mungkin tidak, lebih dari itu.
Selamat datang kembali dalam dunia mayaku.
