Wednesday, September 21, 2005

Peraturan

Di kota ini (dan mungkin banyak kota di dunia- kecuali Jakarta), dengan herannya, peraturan tidak semata-mata diciptakan untuk dilanggar. Begitu pula di kota kotoran anjing ini. Jangan salah, perkataan itu bukan hanya untuk tidak mensyukuri keberadaanku di kota keju, anggur, dan wanita ini. Tetapi memang benar adanya, sekalinya kita keluar berjalan kaki di jalanan kota tua yang rapi ini, kotoran sisa anjing juga dengan setia menemani perjalanan, melekat pada sol sepatu. Itu dengan catatan kita mengenakan sepatu, tentunya. Tinggallah saya mengumpat dalam Bahasa Indonesia di jalanan mengundang heran berbagai orang sekitar.

Ah, lucunya. Saya baru saja membuktikan teori saya salah, karena disini pun sebenarnya pemilik anjing diwajibkan membersihkan sisa makanan itu (dengan cara apa, silahkan berimajinasi). Kalau dipikir-pikir sih memang manusia yang bodoh karena mau diperbodohkan oleh anjing yang, setelah memberi kita pilihan -jalan-atau-rumahmu-bau-, menunggu seraya menjulurkan lidah, menuntut kita cepat-cepat membereskan kotorannya.

Sudahlah, mereka anjing. Mungkin memang kodrat mereka menguji kesabaran umat Prancis yang lebih memilih memelihara anjing ketimbang anak. Pilihan yang saya bisa pahami.

Kembali pada peraturan, kemarin saya berada di samping kakak saya yang sedang mengemudikan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Namun kami terpaksa rem mendadak pada tempat penyebrangan karena ada seorang bapak-bapak dengan bayinya di kereta dorong. Lampu untuk kendaraan hijau; lampu penyebrangan pejalan kaki, merah.

Kakak : "whoalah, gimana sih bapak. Ckck.."

Saya : "udah terus aja."

Seraya berhenti dan menunggu sang bapak menyebrang dengan -supposedly- anaknya, kakak saya menoleh kearah saya, masih kaget, dan...

Kakak : "..."

Kereta dorong telah memasuki zona aman, sementara setengah badan sang ayah masih di tempat penyebrangan,

Saya : "Well yeah.. the baby didn't want to cross during a green light. The father wanted it. Ya udah, give it to him. He probably deserves to die, anyway."

Kakak : "..."


And you say riiiite with that incredulous look, together with that -are-you-insane?- type of look.

I simply think that rules sometimes dehumanise people.

It certainly dehumanised me right there.

Tuesday, September 20, 2005

20/09/05

To know and not to know, to be conscious of complete truthfulness while telling carefully-constructed lies, to hold simultaneously two opinions which cancelled out, knowing them to be contradictory and believing in both of them; to use logic against logic, to repudiate morality while laying claim to it, to believe that democracy was impossible; to forget whatever it was neccessary to forget, then to draw it back into memory again at the moment when it was needed, and then promptly to forget it again, and above all, to apply the same process to the process itself. -- George Orwell, 1984.