Great Teacher Onizuka, atau lebih dikenal sebagai GTO, memang patut diacungi jempol. Gue kagum, ini drama bener2 ngebikin gue kangen sekolah in one sense *kesannya udah tua banget yaks* ^^;; tapi di lain pihak gue kecewa, kenapa gue gak pernah ketemuin guru kayak dia. Seseorang yg bener2 ngikutin kata hatinya, yg dengan tulus membuka mata siswa2nya untuk menjadi yg terbaik. Hal ini sama sekali diluar konteks akademik, dan mungkin tidak sesuai utk ditonton anak yg mempunyai masalah dalam hal ini, karena sebaliknya ini akan menjadi senjata justifikasi mereka.
For those who are not familiar with the guy, I'll try to portrait him the best I could, without including my personal judgements, hoahaha.. as if that's possible!
Jadi gini, he's a damn pervert, irresponsible, immature guy, tapi a part of him is so naive. Rare, right? :-)
Yang jelas, kemampuannya untuk mendekat pada para siswa di kelasnya, yg semua bermasalah (sekali lagi, diluar konteks akademik), membuat dia lain, unik and in a good way, d i s t i n g u i s h e d .
Truthfully speaking, I wish to be like him, or maybe meet someone like him =) Well, not identically maksud gue.. tapi mentally (well not that too coz he's a bit.. hmm retarded, maybe?) urgh, susah dijelasin. It's just that, his impact is so great (hence the name Great Teacher Onizuka-red) among those, karena he believes in what he's doing. Whoa I hope that doesn't sound superficial :)
Kore wa yume? Do you believe in dreams?
Kadang gue merasa distinguished (in a bad way, now) because I don't. Well, at least not one that I want to speak of in public anyhows. Somehow a dream is like a curse, you can only get rid of it by reaching out and grasping your dream. Otherwise the guilt will last your lifetime. It will never let you go. You, will never really let go of it.
Onizuka reached his dream of becoming a teacher. I too, in a sense should continue searching and reaching mine. I can't help thinking where he was when I was in school :p I would've learnt so much not simply out from a tight ligned text book based on some theoritic fact, I would have learnt more about growing up. Ouw, scary- one hell of a big word.
School would've been complete education by itself. Really, if would have been =) But then again, that's what makes movie and reality two different dimensions, ihiehe. Last but most definitely not least, two thumbs up for this intelligently wrapped drama!!!
Sunday, October 17, 2004
Friday, October 15, 2004
Ramadhan
Alhamdulillah, satu hari puasa telah kujalani. Ramadhan pertamaku jauh dari ayah bunda. Aneh rasanya, tak kusangka hanya setahun yang lalu kami masih bersama menunggu imsak, meramalkan hari ini. Ironis adanya, namun itulah nyata. Diawali dengan permohonan maaf, diakhiri dengan kesucian. Suatu hubungan sebab-akibat yang beralasan, meski aku kurang memahaminya.
Baru hari inilah aku merasakan hawa udara musim gugur. Musim yang indah, sungguh- menambah nilai keindahan kota ini. Lepas dari itu, meski seringnya aku dengar reputasi negara Inggris sebagai God's forbidden country, aku percaya aku dapat belajar mencintainya.
Musim gugur dan Ramadhan, dua period yang begitu terkait dalam alamku. Sebelum aku dapat menyadarinya, musim gugur akan berlalu dan berubah dingin. Tidak sama halnya dengan musim semi yang menandai kedatangannya secara dramatis. Sure, ia adalah musim yang disukai banyak jiwa, menandai adanya suatu 'kelahiran'. Aku menyukainya. Di lain pihak, aku tak dapat menghargainya lebih dari itu.
Ia transparan.
Ia mengerikan.
Ramadhan pun akan berlalu sebelum aku 'sempat' memberikan yang terbaik dari diriku. Itu menyedihkan, tapi dapat kupahami. Aku tidak puas terhadap apa yang telah kuubah dari bulan Ramadhan sebelumnya, dan kuharap tahun depan pun sama. Aku tidak menyukai kata perfeksionis, namun aku tidak akan bingung jika orang mencap aku sebagai satu diantara ribuan mereka. Apakah orang harus mempunyai alasan dengan segala apa yang dia kerjakan atau ucapkan? Mungkin iya, karena segala sesuatu di bumi terikat dengan hubungan sebab-akibat. Aku masih mencari jawabannya.
Kini, aku membicarakan keberadaanku di tahun yang akan datang, persis tatkala aku masih bersama ayah & bunda, meramal apa yang aku akan tulis di blog satu ini. Diawali dengan permohonan maaf, diakhiri dengan kesucian. Aku berharap =)
Baru hari inilah aku merasakan hawa udara musim gugur. Musim yang indah, sungguh- menambah nilai keindahan kota ini. Lepas dari itu, meski seringnya aku dengar reputasi negara Inggris sebagai God's forbidden country, aku percaya aku dapat belajar mencintainya.
Musim gugur dan Ramadhan, dua period yang begitu terkait dalam alamku. Sebelum aku dapat menyadarinya, musim gugur akan berlalu dan berubah dingin. Tidak sama halnya dengan musim semi yang menandai kedatangannya secara dramatis. Sure, ia adalah musim yang disukai banyak jiwa, menandai adanya suatu 'kelahiran'. Aku menyukainya. Di lain pihak, aku tak dapat menghargainya lebih dari itu.
Ia transparan.
Ia mengerikan.
Ramadhan pun akan berlalu sebelum aku 'sempat' memberikan yang terbaik dari diriku. Itu menyedihkan, tapi dapat kupahami. Aku tidak puas terhadap apa yang telah kuubah dari bulan Ramadhan sebelumnya, dan kuharap tahun depan pun sama. Aku tidak menyukai kata perfeksionis, namun aku tidak akan bingung jika orang mencap aku sebagai satu diantara ribuan mereka. Apakah orang harus mempunyai alasan dengan segala apa yang dia kerjakan atau ucapkan? Mungkin iya, karena segala sesuatu di bumi terikat dengan hubungan sebab-akibat. Aku masih mencari jawabannya.
Kini, aku membicarakan keberadaanku di tahun yang akan datang, persis tatkala aku masih bersama ayah & bunda, meramal apa yang aku akan tulis di blog satu ini. Diawali dengan permohonan maaf, diakhiri dengan kesucian. Aku berharap =)
Subscribe to:
Posts (Atom)