Setelah sekian lama saya tidak mengutak-atik benda berlayar lainnya diluar ponsel dan komputer ini, kemarin saya memberanikan diri untuk melihat keadaan dunia dari berita televisi. Berita pertama membahas tentang lolosnya "anggota Al-Qaeda" antara 23 terpidana dari sebuah penjara di Yemen. Berita kedua mencuplikan gambar "aksi protes" rakyat Muslim di Beirut akibat terbitnya kartun yang menggambarkan nabi Muhammad SAW dalam sebuah koran Denmark. Pikiran saya langsung terbang mengingat dampak berita kedua ini pada Indonesia, sebelum disibukkan dengan adanya berita seputar ledakan bom Israel di tanah Palestina dan tenggelamnya kapal Mesir di tengah Laut Merah.Tidak banyak yang berubah, pikir saya. Terorisme, Kerusuhan, "Perang Agama". . . Wonder if there's really anything new nowadays? *sigh*. Anyhow, saat saya berganti-ganti dari satu saluran berita ke yang lain, saya melakukan sedikit "pengamatan." Berikut cuplikannya... =P
Judul berita-berita aktual yang terus berputar diatas dentingan "detik-ini", cuplikan berita lain yang diberi efek "ketikan langsung" keluar dari ujung kanan bawah layar, sambungan koresponden di daerah bersangkutan dengan latar dan pakaian tertentu, tangisan, piluh, dan amarah yang meruak dalam bahasa asing... Ini, dan sejumlah hal lainnya bagai tangan tak kasat mata yang mengarahkan emosi penonton dalam satu jalur. Tidak peduli di negara mana dan dalam bahasa apapun; CNN, BBC, EuroNews, France 3, CCTV, semua mengadopsi teknik ini.
Jadi ingat sebuah kata mutiara Inggris yang mengatakan, "There's no news such as bad news" (tiada berita seperti berita buruk) dan mungkin mereka benar. Seorang dosen saya pernah menjelaskan secara pragmatis bahwa hanya ada 2 cara kita bisa mempengaruhi orang; yang pertama melalui cinta, dan kedua melalui rasa takut. Cinta, dan kebanyakan hal positif lainnya di bumi, merupakan sesuatu yang abstrak dan subjektif. Coba ingat kembali, kapan terakhir kamu menanyakan, "is this real?" pada dirimu sendiri saat dihadapkan dengan cinta? Kemungkinan kamu menanyakannya setiap berhadapan dengan perasaan "supranatural" itu. Tapi dengan rasa takut, perasaan itu begitu nyata sehingga tiada lagi kebingungan.
Kini saya semakin terpengaruh dan paham dengan ajaran dosen saya. Seperti halnya berita televisi yang "sekilas-dan-berakhir," tulisan konkrit diatas kertas ataupun halaman internet lebih memberi kita kebebasan untuk berpikir. Kosa kata, struktur, dan cara penulisan memperlihatkan motif dan pagar pandangan sang penulis. Terlebih lagi, hampir tiada hal "eksternal" yang dapat membantu penilaian kita seperti yang saya bahas diatas, karena dengan jelas, bahkan sebelum membaca seluruh artikel, kita sudah tahu bahwa isinya merupakan leburan antara "berita" dan "opini." Selanjutnya, otak kita lah yang membentuk pendapat akhir.
No comments:
Post a Comment