Monday, October 11, 2004

False Alarm

Hari ini gue ngalamin hal yg cukup bisa dibilang lucu, bodoh, dan menegangkan. Apakah gerangan itu? Nah, ini berada dalam tema 'false alarm'. Gue baru nginjakkin satu kaki di metro nomer 12 saat gue sadar ada suatu tas sport hijau tua yang tampak telah tertinggal. Tas itu menempati salah satu kursi lipat dimana tidak ada orang di sebelahnya. Gue, untuk duduk disampingnya juga jadi rada ngeri, so I took the seat opposite. However, there was one lady on the other couple of folded seat but she did not seem to care all that much. So there I was, disamping gue juga ada orang sih. Terus terang aja hati gue sempet gak sreg juga ngeliat tuh tas terlantar... it seemed... suspicious. Tiga atau empat stasiun berlalu, no one talked. Dalam pikiran gue udah macem2 terlintas! Especially after the mini bomb at the Indo Emb a while back, I'm on super alert. I remember thinking that with that much explosives, it was going to be Barcelona's sequel- not very funny. I can't say that I was 'dead' scared, because it wasn't true. I kept thinking that this sort of thing cannot and will not happen in front of my eyes. Nevertheless, I opted to keep my head down dan berzikir. Afterall, emang cuma itu yg gue bisa lakukan.

Saat gue udah lupa itungan stasiun, the woman beside me took her chance and 'asked' the lady near if the bag belonged to her. Obvious answer was heard. Now more people panicked, stood up, stared at the bag in teror. Di muka mereka terbaca -gue-harus-segera-turun-dari-ni-metro!!- dan -i-don't-wanna-die-yet! atau enggak -Noo!!-I-never-even-got-to-get-married!-, hehe canda deng, karena 'frenchies' kan mempunyai visi yg beda dalam hal satu itu :p Anyways, akhirnya ternyata a rather aged woman yg duduk di empat kursi khusus berdiri dan mengakui bahwa tas itu miliknya. Helaan nafas pun mengisi gerbong. Haha, yg lebih lucunya lagi, dia bilang dia udah berhasil memberhentikan 2 metro karena tas-nya itu! Well Hellooww! Ckck... bukannya ditaruh disamping dia ^ ^;; People, the way they think, and what they let others to think... benar-benar membingungkan. Gue pernah denger gini, wajah asli seseorang hanya dapat terlihat saat ia mendekati kematian.

Saturday, October 09, 2004

Innalillahi wa innailaihi roji'uun

Another day passes by...

Innalillahi wa innailaihi roji'uun,
Humankind is a subject of time. Walau gue udah tau itu, ttp saja setiap kali gue denger kabar meninggalnya seseorang, gue terdiam sesaat dan flashback interaksi bersama orang tersebut sesaat dimainkan dalam kepala gue. Today, it was my aunt's turn. Lepas dari statusnya sbg tante gue, gue kurang deket sama dia. But she was always there, you see. Her, with her ideals has been a part of my years in Jakarta.

Saat seseorang meninggal, seringkali kita temukan diri kita berusaha untuk menguatkan keluarga yg ditinggal dgn berbagai macam cara. Apalagi jika rasa kasihan kita diletakkan pada fakta bahwa anak yg ditinggalkan masih kecil. Ini bukan halnya dgn tante gue ini, tapi topik ini menjadi bagian dari pembicaraan antara gue dan [yes, siapa lagi^^;;] kakak gue. As hard as we want to try to put a smile on their damp faces, we are faced with the etiquette or to respect the boundry, to leave them moarning. Believe me, there is such thing as a good cry. It is therefore, inappropriate, to make them feel happy on the day. Here, the proof of destiny lies evidently, because seakan2 kita sudah harus merasa sedih, meski walaupun tanpa disuruh pun kita akan sedih.

Then what happens next? Setelah beberapa minggu berlalu, apa yg menjadi sikap kita terhadap keluarga yg ditinggal? Try to make them smile once again? Or stay mute and wait 'till they let us make them smile? Gue gak tau jawabannya, tapi yg gue tau... suatu saat, senyuman itu akan menyungging kembali di wajah mereka, meski waktunya berbeda2 sesuai dengan orang masing2.