Another day passes by...
Innalillahi wa innailaihi roji'uun,
Humankind is a subject of time. Walau gue udah tau itu, ttp saja setiap kali gue denger kabar meninggalnya seseorang, gue terdiam sesaat dan flashback interaksi bersama orang tersebut sesaat dimainkan dalam kepala gue. Today, it was my aunt's turn. Lepas dari statusnya sbg tante gue, gue kurang deket sama dia. But she was always there, you see. Her, with her ideals has been a part of my years in Jakarta.
Saat seseorang meninggal, seringkali kita temukan diri kita berusaha untuk menguatkan keluarga yg ditinggal dgn berbagai macam cara. Apalagi jika rasa kasihan kita diletakkan pada fakta bahwa anak yg ditinggalkan masih kecil. Ini bukan halnya dgn tante gue ini, tapi topik ini menjadi bagian dari pembicaraan antara gue dan [yes, siapa lagi^^;;] kakak gue. As hard as we want to try to put a smile on their damp faces, we are faced with the etiquette or to respect the boundry, to leave them moarning. Believe me, there is such thing as a good cry. It is therefore, inappropriate, to make them feel happy on the day. Here, the proof of destiny lies evidently, because seakan2 kita sudah harus merasa sedih, meski walaupun tanpa disuruh pun kita akan sedih.
Then what happens next? Setelah beberapa minggu berlalu, apa yg menjadi sikap kita terhadap keluarga yg ditinggal? Try to make them smile once again? Or stay mute and wait 'till they let us make them smile? Gue gak tau jawabannya, tapi yg gue tau... suatu saat, senyuman itu akan menyungging kembali di wajah mereka, meski waktunya berbeda2 sesuai dengan orang masing2.
Saturday, October 09, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment