Tidak banyak yg aku jalani hari ini selain memajang tampang di tempat les, menghadiri wawancara calon sekolah (amin!), dan mencoba stew daging bumbu instan. Praktis, dan keberhasilan mendekati 100%! So why miss it? ihihi... Sebenernya ini sangat ga orisinil dan tidak membantu dalam melatih culinary skill-ku, namun aku tetap bangga. Mungkin bangga karena pilihan merk bumbu instan Maggie itu tepat sasaran, atau mungkin juga karena aku tau aku gak sendirian diantara ribuan cw lainnya di kota metropolitan yg andalannya me-defreeze frozen food :-) Yang manapun alasannya, aku tetap bangga, titik. Itu cukup. Setidaknya untuk sekarang. Wawancara juga alhamdulillah berjalan lancar, walau terkadang pertanyaannya membuatku merasa tampil dalam sebuah acara infotainment di tipi2 swasta Indonesia. Catatan, bukannya aku ingin atau pun bisa memasuki kehidupan super-exposed itu.
"Kalau kamu punya kesempatan utk membalikkan waktu, apa yg akan kamu perbaiki, yg kemudian dapat berdampak padamu hari ini?"
Bagaimanapun juga, aku menyukai pertanyaan itu, karena memang kebanyakan hidupku berkiblat pada masa lalu. Jadi, this question was as easy as pealing potatoes. And for your information, pealing potatoes can be hard for someone like me. Jadi ekspresi itu terdengar cukup ironis di kepalaku sesaat setelah pertanyaan itu dilontarkan oleh 'calon' dean-ku. Apa yg kujawab? Aku sudah tak ingat :p Hehehe, yg jelas seluruh wawancara itu tidak berlangsung terlalu lama. Bahkan, sangat pendek. Aku keluar dan merasa puas atas jawaban-jawabanku, walau aku sadar tidak ada jawaban yang benar atau salah dalam hal seperti ini. Yang penting adalah pembawaan dirimu. Aku bertanya-tanya pada abang, untuk sekedar mengetahui updates. Maklum, aku tidak bersahabat dengan tv. Aku juga ingat diberi one piece of rare advice (and when I say rare, believe me, it's indeed rare!) dari ayah, pada malam sebelumnya.
The most important thing is for you to talk, yang.
Ini mungkin alasan utama kenapa aku merasa lega, karena aku telah berhasil melakukan apa yg telah ayah anjurkan, dan menggunakan secara efektif ilmu kilat yang kudapati 2 jam sebelumnya dihadapan mme. dean. Oi, surname-nya bukan dean loh ;-)
Disamping itu, cinTapuccino, karya Icha Rahmanti, kini telah kubaca kelar. Hmm... not in the mood to comment much about quarter-life's crisis, yg belum aku alami. Aku lebih banyak berasosiasi pada adik sang tokoh, yg juga berumur 17 tahun. Namun gambarannya terlalu childish, mnurutku. Entahlah... mungkin aku salah menilai. This chicklit is more for my mba-mba's (20 something? ihiehe) and less for me. Although, cukup menyenangkan membacanya sebagai company di kereta :-)
Tuesday, November 16, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment