Gue baru aja nyadar suatu hal yg gue telah sadari beribu kali sebelumnya, namun tetap saja pada akhirnya gue sadar gue 'nyadar' kembali. Susah memang. Di satu pihak gue ngeliat hal yg gue lakuin itu gak mungkin membawa dampak buruk bagi pihak2 lain yg bersangkutan, melupakan bahwa sebenarnya dampak buruk tsb langsung dan hanya menikam gue. Ini bukan suatu upaya untuk mem-boast kemurnian hati gue. Ini bukan tempatnya.
Menginginkan sesuatu itu ternyata (benar) seperti curse. Jika tidak mendapatkannya, maka balon impian dari apa yg kita 'gagal' capai akan jatuh dan terkubur dalam (setidaknya) alam bawah sadar. Semakin waktu berlalu, semakin tak terlihat ia dari pandangan. Namun saat mengalami keadaan yg serupa, balon kan mengalami gesekan dan tekanan tumpul yg memberatkan batin. Balon impian tak kan pernah pecah, karena permainan antara hidup & waktu telah menyepakati puncak tingkat tekanan & gesekan, sehingga dengan kejam dan pengertiannya selalu memainkan masalah diantara itu.
Gue (sedang) melakukan suatu kesalahan. Beberapa orang menganggapnya dead wrong. Beberapa orang lainnya beranggapain ini nggak salah, namun tindak lanjut gue menangani masalah inilah yg salah. What's the fu*kin difference?! I'm still wrong in the end.
They don't understand. Mereka bahkan tidak mengetahui setengah dari drama ini. Garis besar yg begitu tebal telah disimpulkan yg ngebuat gue bener2 nyesel udah ngomong apa2 dan memutuskan untuk tidak sekalipun berupaya membuat mereka mengerti. Capek. Toh gue sendiri sudah tau bahwa gue salah. Bahkan mereka yg tadinya menjadi sumber keyakinan gue bahwa gue 'gak salah' pun akhirnya memvonis sebaliknya. This is no endless discussion: it's wrong.
I'm just tired of explaining why Robin Hood is stealing. Ok, maybe that's too humble of an image, but I really just can't be bothered explaining the middle when they already know the end. I was never much of a storyteller from the start.
Logic of the mind has always found its place together with the other logic that exist as part of my human nature. Saat ini keduanya berada jauh dari keinginan otak gue tuk sadari bahwa, this is a battle in which I (stupidly) thought I had an ally that had the same interest on the battle field. I never dared to look back and realise that he never signed the contract. Foolishly, however, I seek the journey on my own anyway. And believe he would come.
Wednesday, June 29, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment